IKLAN

Babad Banyumas (Bagian: I)

Oleh: Purwadi, Ketua LOKANTARA (Lembaga Olah Kajian Nusantara


A.  Banyukerto Menjadi Banyumas

Serat Babad Banyumas memberi informasi yang terang benderang. Kawibawan kawidadan kabagyan lan kamulyan berkilauan. Tepa palupi merupakan tuntunan yang bersumber dari paugeran para leluhur. 

Pada masa kerajaan Demak Bintara nama Banyumas masih disebut Banyukerto. Wilayah ini langsung diperintah oleh Kadipaten Semarang. Pembina wilayah Banyukerto dipegang oleh Ki Ageng Pandan Aran. Pembesar kadipaten Semarang ini masih keturunan Adipati Yunus Syah Alam Akbar. Beliau adalah Sultan Demak Bintara.


Dhandhanggula

Babad Banyumas ingkang winarni, 

Murwani jaman Demak Bintara, 

Ganda melathi  rinonce, 

Angambar wangi arum, 

Wedharan ing Tanah Jawi, 

Lumantar Wali Sanga, 

Gancar mbabar kawruh, 

Jaka Tingkir Kraton Pajang, 

Mandhegani murih basuki lestari, 

Nama Joko Kahiman. 


Perlu ditelusuri asal usul berdirinya Kabupaten Banyumas. Lama kelamaan daerah Banyukerto semakin maju. Pertanian, perkebunan, peternakan, perdagangan berjalan lancar. Rakyat pun hidup makmur sejahtera. Kekuasaan Demak berpindah ke Pajang. Kerajaan Pajang diperintah oleh Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya. Raja Pajang ini memang sakti mandraguna. Beliau masih berdarah Majapahit, Demak dan Pengging. Pada dirinya mengalir darah biru, bangsawan besar Jawa. Benar benar trahing kusuma rembesing madu, wijining amara tapa, tedhaking andana warih.

Kedudukan Joko Tingkir di Kerajaan Pajang sangat kuat. Begitu menduduki tahta semua kekuatan politik dirangkul. Selama memegang kekuasaan Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya selalu bisa momong momor momot. Putra Sunan Prawoto pewaris Kasultanan Demak Bintara bernama Raden Joko Kahiman. Sewaktu berguru kepada Sunan Kalijaga, Joko Kahiman bernama santri Abdul Mukmin.

Sultan Hadiwijaya raja Pajang menetapkan Raden Joko Kahiman sebagai penguasa Banyukerto. Saat itu Banyukerto berstatus Kawedanan. Trah Demak dan Pajang menata Banyumas. 


Kinanthi

Joko Kahiman satuhu, 

Titis wasis samukawis, 

Atmaja Sunan Prawata, 

Kinen jumeneng Bupati, 

Pangarsa tlatah Banyumas, 

Dhawuh raja Jaka Tingkir. 


Begitu Joko Kahiman dilantik status Banyukerto dinaikkan dari Kawedanan menjadi Kabupaten. Joko Kahiman resmi menjabat sebagai Bupati Banyukerto. Atas usul Pangeran Benawa, nama Banyukerto diubah menjadi Kabupaten Banyumas. Joko Kahiman menjadi bupati Banyumas sejak tanggal 22 Pebruari 1582 hingga1583, dengan gelar Tumenggung Purwonagoro. 

Kabupaten Banyumas berhasil sebagai daerah pemekaran. Pengganti Bupati Purwonagoro bernama Raden Ngabehi Martasura I yang memerintah tahun 1583-1600. Kekuasaan Jawa bergeser dari Pajang ke Mataram. Rajanya bernama Panembahan Senopati. Raden Ngabehi Martasura I berasal dari Paremono Muntilan Magelang. 

Bupati Banyumas ini masih putra Patih Manca Negara, perdana menteri jaman kerajaan Pajang. Selama tinggal di Magelang, Raden Ngabehi Martasura I belajar tata pemerintahan, tata praja dan udanagara. Pemerintahan Mataram selanjutnya dipegang oleh Sinuwun Prabu Hadi Hanyokrowati tahun 1601-1613. Raja ahli bangunan megah. 


Mijil

Bupati sigra sengkut makarti, 

Manunggal gumolong, 

Cipta rasa karsa karya gedhe, 

Linambaran pakarti pekerti, 

Banyumas sejati, 

Lila guyub rukun. 

Kompak bersatu kokoh. Bupati Banyumas dipegang pejabat baru. Beliau adalah Raden Ngabehi Martapura II. Istrinya berasal dari Pati, anak Ki Ageng Penjawi. Istri sang bupati populer disebut Ratu Adipati Wicaksono Arum. Beliau seorang putri linuwih, cerdas, ramah, cekatan, pintar, lincah, pemurah dan welas asih. Tentu saja kehadiran Ratu Adipati Wicaksono Arum menjadi idola buat sekalian warga Kadipaten Banyumas.

[Bersambung]


Posting Komentar

0 Komentar