IKLAN

Babad Banyumas (Bagian III)

Oleh: Purwadi

Ketua LOKANTARA, Lembaga Olah Kajian Nusantara)


Gambuh

Bangunan saka kayu, 

Ing pangajab pikantuk rahayu, 

Amangkurat Kanjeng Ratu Wiratsari, 

Banyumas tambah ngrembuyung, 

Suka gembira rinaos. 

Ratu Wiratsari mendirikan kantor di desa Lesmana Ajibarang Banyumas. Kantor darma wanita cabang Mataram ini multiguna. Pendapa dibangun dengan ruangan yang luas. Pelataran dibuat asri indah. Orang pun kerap bermain sekedar melepas lelah. Pendapa ini dilengkapi gamelan pelog slendro. Muda mudi berlatih seni, karawitan, pedalangan dan tari. Tiap malem Kamis Pahing bertepatan dengan wiyosan Kanjeng Ratu Wiratsari, para siswa seni ini diberi kesempatan untuk pentas. Suguhan mbanyu mili. Tentu semua merasa senang.


Ricik ricik

Ricik kumricik banyune wis rata, 

Sedhela maning bapake wis teka, 

Inyong kaget adhuh rika mbeta napa, 

Bungkus pwthak nku isi sega. 

Bidang pertanian tidak lepas dari perhatian kanjeng Ratu Wiratsari. Pengairan diurus sebaik -baiknya. Kali Serayu diatur alirannya. Kanjeng Raden Tumenggung Tirtanagara adalah menteri pengairan Kraton Mataram. Selama tiga tahun ditugaskan untuk menata daerah aliran sungai Serayu. Bendungan banyak dibangun sebagai sarana irigasi pertanian yang meliputi daerah Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas dan Cilacap. Pada tanggal 22 Pebruari 1657 Sinuwun Amangkurat Agung meresmikan tata pengairan di Banyumas.

Gagasan untuk kesejahteraan terus digalakkan. Setiap bendungan ada budi daya perikanan. Tawes, kakap, nila, mujahir, lele, udang dipelihara dengan metode perikanan yang maju. Kanjeng Ratu Wiratsari memberi bantuan nyata. Tenaga ahli didatangkan dari negeri Tamasek Singapura. Hasilnya meningkat, kemakmuran berlipat ganda. Bahkan hasil perikanan Serayu Banyumas diekspor ke Timur Tengah, Asia Selatan dan Asia Timur.


Serayu

Adhuh segere banyune ing sendhang, 

ilang kesele wis mari le mriyang, 

banyune bening nyegerake ati, 

kudu sing eling mring tindak kang suci. 

Tembang Serayu khas Banyumasan tersebut populer di tengah masyarakat. Sebagai tanda ungkapan bersyukur.

Bagi masyarakat kabupaten Banyumas Sri Susuhunan Amangkurat Agung dan Kanjeng Ratu Wiratsari adalah pahlawan besar. Beliau berdua mewariskan jasa yang patut dikenang sepanjang masa. Pada tanggal 10 Juli 1677 Sri Susuhunan Amangkurat Agung wafat di Lesmana Ajibarang Banyumas. Jenazahnya dimakamkan di daerah Pakuncen Tegal Arum Adiwerna Tegal.

Keagungan Purwokerto Sebagai Ibukota Kabupaten Banyumas. Kompleks perkantoran kabupaten Banyumas berada di kota Purwokerto. Nama Purwakerto diabadikan oleh Kanjeng Ratu Wiratsari pada tahun 1659. Kesadaran historis perlu dikembangkan Daerah Banyukerto tetap dilestarikan dalam bentuk pemekaran morfologis. Kata majemuka Banyukerto lebih diperluas makna semantis, yaitu Banyumas dan Purwokerto. Banyumas berarti air emas. Lambang kejayaan, keemasan, kemakmuran. Purwokerto berarti asal mula berkarya, bekerja, berproduksi. Lambang kerja keras, perjuangan dan usaha mandiri. Kewibawaan, kawidadan, kamulyan lan karaharjan menyertai masyarakat kabupaten Banyumas yang beribukota di Purwokerto yang tersohor. 


Pangkur

Para Bupati Banyumas, 

Golong gilig arsa mbangun negari, 

Dhawuh Amangkurat Agung, 

Nuhoni Ratu Kencana, 

Mrih rahayu iline kali Serayu, 

Angocori sawah sawah, 

Tela pohung jagung pari. 

Sandang pangan papan berkecukupan. Pembangunan pendapa kabupaten Banyumas disertai dengan ritual dengan sesaji yang khusus. Soko guru atau tiang utama pendapa Kabupaten Banyumas terbuat dari kayu jati pilihan. Sengaja diambilkan kayu jati dari alas Donoloyo Wonogiri. Alas Donoloyo terkenal sebagai tempat wingit gawat kaliwat liwat. Penebangan kayu jati Donoloyo melalui prosesi ritual dan sesaji yang lengkap. Ratu Wiratsari mengerti betul adat istiadat yang diajarkan oleh leluhur.

Rombongan penebang kayu ini disertai pula sesepuh yang memimpin tata cara wilujengan. Lantas diadakan pentas tayuban lengkap dengan seniman wiyaga dan waranggana. Wilujengan dan tayuban merupakan syarat wajib dalam prosesi penebangan kayu jati Donoloyo. Pendapa Kabupaten Banyumas tampak menyinarkan aura kewibawaan.

Pemandangan ibukota Banyumas memang indah. Tata kota Purwokerto dibuat sesuai dengan standard arsitektur Mataram. Empat hal pokok yang pasti diatur, yakni pendapa kabupaten, pasar, alun- alun dan Masjid Agung.

Pendapa Kabupaten Banyumas di Purwokerto berbentuk joglo limasan. Ruang tengah dilengkapi dengan bagian pringgitan. Bagian belakang terdapat gadri kembar. Rerumputan, tanaman hias dan pepohonan ditata rapi. Mirip dengan taman Maerakaca. Atas saran Kanjeng Ratu Wiratsari, pendapa Kabupaten Banyumas terbuka untuk umum. Para seniman berprestasi diberi kesempatan unjuk kebolehan di ruang pendapa. Tumenggung Martayuda II beruntung sekali saat menjadi bupati.

Pembangunan kompleks perkantoran Bupati Banyumas di Purwakerto melibatkan juru ukir dari Sukodono, Tahunan, Jepara. Mereka adalah juru ukir ternama yang pernah mengabdi kepada Kanjeng Ratu Kalinyamat.


Asmarandana

Kanjeng Ratu Wiratsari, 

Prameswari Amangkurat, 

Yasa Kedhaton Pamase, 

Ambangun tlatah Banyumas, 

Ing Lesmana Ajibarang, 

Pra kawula mesem ngguyu, 

Kadang tani among dagang. 

Kecintaan rakyat kepada Amangkurat begitu lekat. Sedangkan pondasi bangunan dikerjakan oleh ahli semen gamping dari Tuban. Sementara untuk penerangan dikerjakan oleh personil dari Cepu. Semua ahli bangunan itu didatangkan oleh Kanjeng Ratu Wiratsari atas biaya sendiri. Maklum beliau memiliki sumber finansial yang berlimpah ruah. Usaha bisnis Ratu Wiratsari sedang lancar lancarnya. Jarak antar pusat daerah dibuat 30 km dari wilayah Cilacap, Kebumen, Banjar-negara dan Bumiayu. Tata kota yang ideal.


(Bersambung)

Posting Komentar

0 Komentar