IKLAN

Mengenal Alkasa Cacarakan di Tataran Sunda

|Uploader: Redaksi-001|

|KlikJogja.Com| - Masyarakat Jawa mengenal bahasa dan aksara Hanacaraka, sedangkan Masyarakat Sunda mengenal Cacarakan. Cacarakan sebenarnya juga mengadopsi dari Hanacaraka. Cacarakan ini adalah aksara yang dahulu digunakan oleh masyarakat di Kasultanan Cirebon, kerajaan Sumedang dan Galuh (Ciamis). Juga digunakan sebagai Bahasa pemersatu untuk mengempur VOC.

Kisah bagaimana Cacarakan berkembang, berawal dari Ketika Mataram menyerang pasukan VOC di Batavia pada tahun 1626 dan 1628. VOC terlalu kuat dan malah berhasil menguasai Jawa Barat pada 1800 an. Sejak itu pemerintah Belanda selain mengajarkan aksara Latin juga memperkenalkan Cacarakan di sekolah Desa.

Susunan Cacarakan memuat cerita yang mudah dihapal :

Hana caraka = ada dua utusan

Data sawala = bertengkar karena kebenaran

Padha jayanya = sama saktinya

Maga bathanga = keduanya gugur.

Masa pendudukan Jepang Cacarakan masih diajarkan di sekolah rakyat, tetapi sejak 1945 tidak lagi  diajarkan. 

Selain Cacarakan yang digunakan di tiga daerah tersebut (Cirebon, Sumedang, Galuh), masyarakat Sunda lainnya menggunakan Aksara Ratu Pakuan. Pakuan adalah nama ibukota Pajajaran (1482-1578), yang sekarang bernama Bogor.  Bentuk aksara Sunda Ratu Pakuan, jauh berbeda dengan Cacarakan, juga tak mirip dengan aksara zaman Tarumanagara (358-669). Jauh berbeda jika dibandingkan dengan aksara Sunda pada Batu Tulis Bogor.  Aksara Sunda Ratu Pakuan ini sangat mudah dihafalkan, terutama oleh yang telah mengenal angka 7 karena aksara ini hampir semuanya memiliki “bentuk dasar” seperti angka tujuh.

Aksara Sunda Ratu Pakuan ini “ngalagena” (bersua A) dan dilengkapi dengan tanda-tanda untuk mengubah bunyi A menjadi bunyi lain : I-U-E-OE-EU”.  Susunan Aksara Sunda Ratu Pakuan sebagai berikut:

PA SA KA WA JA CA RA HA NYA TA MA DA YA NA GA BA LA NGA

Orang yang biasa menulis dengan Cacarakan, tak akan sukar menulis aksara Sunda Ratu Pakuan ini.

Demikian sedikit cerita tentang pengetahuan literasi nenek moyang kita dulu yang sebagian besar dari kita khususnya masyarakat Jawa Barat sudah banyak yang tidak mengetahuinya lagi (*)


Sumber: Koran Berita Buana Minggu, 4-8-1996. Koleksi Surat Kabar Langka-Perpustakaan Nasional

Posting Komentar

0 Komentar